• Bahasa Indonesia,  Poets,  Thoughts

    Kering

    November kemarin menyakitkan, ibarat luka yang belum sembuh namun diteteskan air garam. Pedih. Orang-orang yang dzalim belum beranjak, duduk termangu dengan imajinya seakan apa yang terjadi adalah fana. Buntu, moralnya. Keliru, pikirannya. Seakan-akan ideologi yang ditanamkan selama bertahun tidak ada yang membekas sebiji zarah pun. Fitnah. Keji. Menyerahkan kepada yang Maha Kuasa, namun benak masih saja menghitung yang nisbi. Lucu. Tertawa. Kemudian Desember datang. Menyapu puing reruntuhan sakit hati yang tersisa, membuangnya jauh-jauh agar lupa. Sedikit demi sedikit, itu berhasil. Namun orang-orang dzalim masih belum beranjak. Desember tidak sekuat itu untuk turut menyapu mereka, meskipun memelas, meskipun menangis, orang-orang dzalim masih berada di sana. Desember melupakan Januari yang selalu datang…