Assignments,  Bahasa Indonesia,  Law & Politics

Riba dalam Perspektif Hukum Islam

Pendahuluan

Ekonomi merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup manusia sehari-hari. Islam merupakan salah satu bingkai dalam kegiatan ekonomi manusia dengan etikanya dan kaidah moralitasnya. Islam memiliki dua sumber hukum yang kebenarannya absolut yaitu al-Qur’an dan hadis yang dipercaya mampu menjawab semua problematika zaman yang selalu berkembang. Semua hal yang berkaitan dengan aktivitas manusia telah diatur di dalamnya, yang secara garis besar terbagi menjadi tiga yaitu akidah, ibadah dan muamalah.[1] Dalam kedua sumber hukum Islam tersebut, ekonomi mendapat sorotan yang cukup besar karena ekonomi merupakan pilar yang penting dalam keberlangsungan hidup manusia.

Allah SWT menurunkan rezeki ke dunia ini untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan cara yang halal dan bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba. Namun perbedaan pandangan dalam penelusuran dan penggalian tentang riba dalam dunia ilmu fiqih ini seolah tak ada hentinya seiring berkembangnya model akad yang ada dalam praktik bank syari’ah.[2]

Perdebatan mengenai riba dapat dianggap sebagai suatu perdebatan yang telah berlangsung sejak lama baik dalam perkembangan perspektif Islam maupun dalam peradaban Islam karena riba merupakan suatu persoalan yang sangat berhubungan erat dengan kegiatan masyarakat sehari-hari. Erat dalam arti riba selalu ada dalam setiap transaksi ekonomi yang dilakukan oleh seseorang.

Pada dasarnya, transaksi riba dapat terjadi dari transaksi hutang piutang, namun bentuk dari sumber tersebut bisa berupa qardh, buyu, dan lain sebagainya.[3]

Dewasa ini, meski telah dianggap menjadi sesuatu yang haram, praktik riba tetap berjalan dan terjadi dalam dunia perbankan, terlebih bank konvensional. Bunga bank dijadikan dasar untuk mengasumsi bahwa bank konvensional tidak lepas dari riba atas kemiripan karakteristik bunga bank dengan definisi riba. Asumsi inilah yang merupakan masalah yang sering diperdebatkan sampai sekarang. Maka dari pemaparan di atas, penting untuk dilakukan suatu kajian mengenai riba dalam perspektif hukum Islam secara menyeluruh.

Pembahasan

Pengertian Riba

Pengertian riba secara teknis menurut para fuqaha adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil baik dalam utang piutang maupun jual beli.[4] Kata riba sendiri berasal dari kata dalam bahasa Arab, yang berarti tambahan, berkembang, meningkat atau membesar. Dalam suatu ungkapan masyarakat Arab kuno menyebutkan arba fulan ‘ala fulan idza azada ‘alaihi yang artinya seseorang melakukan riba kepada orang lain jika ia meminta tambahan. Sedangkan menurut istilah atau terminologi ilmu fiqih, riba diartikan sebagai tambahan khusus yang diberikan sebagai imbalan atas balas jasa atau atas pinjaman yang diberikan. Dalam bahasa inggris, riba dikenal dengan istilah “Usury” yang berarti tambahan uang atas modal yang diberikan dari seseorang dan tidak sesuai dengan syariah atau kaidah yang berlaku.[5]

Secara luas penghapusan riba dapat dimaknai sebagai penghapusan segala bentuk praktik ekonomi yang menimbulkan kezaliman atau ketidakadilan. Riba jangan hanya dipahami dan direduksi pada masalah bunga bank saja. Tetapi secara luas riba bisa hidup laten atau poten di dalam sistem ekonomi yang diskriminatori, eksploitatori dan predatori yang berarti dapat hidup di dalam suatu sistem ekonomi subordinasi, kapitalistik, neoliberalistik dan hegemonik imperialistik, yang tidak bisa dibatasi dari segi perbankan saja.[6]

Macam-macam Riba

Secara esensial, terdapat dua macam riba yaitu riba yang merupakan akibat dari hutang piutang, serta riba dari hasil jual beli dalam bertransaksi as-Sunnah. Kedua riba tersebut antara lain:

  1. Riba akibat hutang piutang disebut Riba Qardh, yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtarid), dan Riba Jahiliyah yaitu hutang yang dibayar dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.[7]
  2. Riba akibat jual beli disebut Riba Fadhl. Riba fadhl sebenarnya adalah riba yang dikarenakan adanya kelebihan atau tambahan dalam proses pertukaran antar barang (transaksi) yang seharusnya ditukarkan berdasarkan tamatsul atau semisal.[8]

Dan Riba Nasi’ah yaitu penangguhan atas penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang diperlukan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah muncul dan terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian.[9]

Pandangan Hukum Islam terhadap Riba

Para ulama menetapkan dengan tegas dan jelas tentang pelarangan riba, disebabkan riba mengandung unsur eksploitasi yang dampaknya merugikan orang lain, hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma’ para ulama. Bahkan dapat dikatakan tentang pelarangannya sudah menjadi aksioma dalam ajaran Islam.[10]

Manusia merupakan makhluk yang “rakus”, mempunyai hawa nafsu yang bergejolak dan selalu merasa kekurangan sesuai dengan watak dan karakteristiknya, tidak pernah merasa puas, sehingga transaksi-transaksi yang halal susah didapatkan karena disebabkan keuntungannya yang sangat minim, maka haram pun jadi (riba).[11]

Sesungguhnya dasar dilarangnya riba dalam hukum Islam adalah untuk menghindari adanya ketidakadilan atau kezaliman dalam praktik ekonomi. Sementara riba (bunga) pada hakikatnya adalah pemaksaan suatu tambahan atas debitur yang melarat, yang seharusnya ditolong bukan dieksploitasi dan memaksa hasil usaha agar selalu positif. Keharaman riba merupakan mujma-alaih dan termasuk dosa besar berdasarkan ayat dan hadis-hadis yang melarangnya.[12]

Riba dianggap bertentangan dengan prinsip ajaran Islam yang sangat peduli dengan kelompok-kelompok sosio-ekonomi yang lebih rendah agar kelompok ini tidak dieksploitasi oleh orang-orang kaya (pemilik dana). Sebab ajaran ekonomi Islam mengemban misi humanisme, tatanan sosial dan menolak adanya ketidakadilan dan kezaliman yang mata rantainya berefek pada kemiskinan.[13]

Terdapat pula beberapa tahap dalam pengharaman riba dalam hokum Islam. Tahap-tahap tersebut antara lain:

Tahap Pertama

Tahap pertama disebutkan melalui surat Ar-Rum ayat 39 yang menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang yang melakukan tindak riba. Hidayah didapatkan dengan menjauhkan riba. Allah juga menolak siapa yang meminjamkan uang atau hartanya tetapi kemudian mengambil untung dari tindak tersebut atas nama menolong.

Tahap kedua

Tahap kedua disebutkan melalui surat An-Nisa’ ayat 160-162 yang menggambarkan riba sebagai perbuatan yang batil dan dzalim terhadap orang lain.

Tahap ketiga

Tahap ketiga tertera dalam surat Ali Imran ayat 130 yang mengharamkan riba dalam bentuk ganda.

Tahap keempat

Tahap keempat berasal dari surat al-Baqarah ayat 275-279 yang berisi tentang pelarangan tegas terhadap riba dalam berbagai bentuknya, tanpa ada pembedaan atas besar kecilnya riba ini.

Penutup

Berdasarkan pemaparan dan uraian yang telah ditelaah di atas, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar, riba tetap terbagi menjadi dua yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli.

Selain dari itu, sesungguhnya riba merupakan suatu kegiatan yang mengeksploitasi masyarakat dan dapat dikatakan tidak mengikuti etika moralitas. Maka dari itu, riba dinyatakan dengan tegas sebagai hal yang haram menurut Al-Qur’an. Akan tetapi, pengharaman dari riba ini tidak semata-mata dilarang tanpa alasan yang jelas, melainkan berdasarkan pertimbangan moral serta kemanusiaan sebab telah ditemukan bahwa riba dalam praktik ekonomi menimbulkan kezaliman dan ketidakadilan.


[1] Abu Bakar, Riba dalam Muamalah, Tesis, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2018, hlm. 1.

[2] Fathul Aminudin Aziz, “Riba dalam Perspektif Hukum da Fiqih Manajemen”, el-Jizya, Vol. II, No. 1, Januari-Juni 2014, hlm. 122.

[3] Wasilul Chair, “Riba dalam Perspektif Islam dan Sejarah”, Iqtishadia, Vol. 1, No. 1, Juni 2014, hlm. 98.

[4] Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd al-Qurtubi, Bidayah al-Mujtahid wa an-Nihayah al-Muqtasid, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1981), Juz 2, hlm. 128.

[5] “Hukum Riba Dalam Islam”, https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-riba-dalam-islam, diakses pada 19 April 2019.

[6] Sri-Edi Swasono, ”Ekonomi Islam dalam Pancasila”, Makalah Interntional Seminar on Implementation of Islamic Economics, dalam rangka Annual Meeting of Indonesian Economics Experts Association UNAIR (Surabaya, 1-3 Agustus 2008), h. 22-23.

[7] Muhammad Syafi’i Antonion, Bank Syariah bagi Bankir dan Praktisi Keuangan, (Jakarta: Tazkia Institute, 1999), hlm. 77-78.

[8] “Pengertian Riba Fadhl dan Contohnya Yang Harus Anda Mengerti”, http://ipospedia.com/pengertian-riba-fadhl-dan-contohnya/, diakses pada 20 April 2019.

[9] Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Konsep, Produk dan Implementasi Operasional Bank Syariah, (Jakarta: Djambatan, 2002), hlm. 39-40.

[10] Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi, Fiqh Ekonomi Keuangan Islam, (Jakarta: Darul Haq, 2004), hlm. 345.

[11] Wasihul Chair, Op.Cit., hlm. 99.

[12] Abu Zahrah, Buhusun fi ar-Riba, (Kairo: al-Fikr al-‘Arabi, t.t.), hlm. 80-82.

[13] Ummi Kalsum, “Riba Bunga Bank dalam Islam”, Jurnal Al-‘Adl, Vol. 7, No. 2, Juli 2014, hlm. 68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: