Assignments,  Bahasa Indonesia,  Law & Politics

Hak dan Kewajiban Suami-Isteri dalam Perspektif Hukum Islam

Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dan mulia. Maka dalam segala aspek kehidupan, Allah SWT mengawal dan membimbing umat manusia dengan adanya aturan-aturan yang telah Allah SWT tetapkan untuk menjaga kemuliaan manusia dan menyelamatkan manusia dari kenistaan, dan diantara hal tersebut adalah perkawinan. Ikatan perkawinan merupakan ikatan yang paling erat yang menyatukan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Dalam suatu perkawinan, pasangan suami isteri diikat dalam suatu komitmen untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan saling memenuhi hak dan kewajiban bersama dan masing-masingnya.

Hak dan kewajiban bersama antara sepasang suami isteri mulai timbul sejak berlangsungnya perkawinan. Secara spesifik, hak dan kewajiban suami isteri diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan (selanjutnya disebut UUP).

Pada prinsipnya, hak dan kewajiban bersama suami isteri dalam suatu perkawinan adalah seimbang, baik di dalam rumah tangganya maupun di dalam pergaulannya di dalam masyarakat. Undang-undang memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi suami isteri dalam melakukan perbuatan hukum.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu, kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut  sesuatu, derajat, harkat atau martabat.[1] Sedangkan kewajiban berasal dari kata wajib yang berarti tetap, mengikat, pasti dan keharusan untuk membuat sesuatu. Secara tatanan kebahasaan berarti suatu perbuatan yang di tuntut untuk di kerjakan.[2] Suatu kewajiban muncul karena hak yang melekat pada suatu subyek hukum.

Sebagai negara dengan mayoritas umat muslim, tentu perlu dipelajari pula hak dan kewajiban sepasang suami isteri dalam pandangan hukum Islam. Selain daripada perspektif hukum perdata yang menuangkan hak dan kewajiban dari suami isteri melalui UUP, masih terdapat Kompilasi Hukum Islam yang menjabarkan hak dan kewajiban tersebut. Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis akan membandingkan hak dan kewajiban bersama suami isteri dalam melalui perspektif Hukum Islam berdasarkan dari kitab Minhajul Muslim.

Pembahasan

Pengertian Pernikahan

Pernikahan merupakan salah satu syari’at Islam yang bertujuan mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan keluarga yang penuh kasih sayang dan keberkahan.[3] Pernikahan juga merupakan suatu ibadah yang dianggap luhur, sakral, mengikuti sunah rasul dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan, rasa tanggung jawab serta mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus diindahkan.[4]

Allah SWT. menciptakan manusia berpasang-pasangan. Secara naluri kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan keduanya saling membutuhkan. Naluri saling membutuhkan itu merupakan hal yang wajar dan harus didukung oleh keluarganya agar mereka mampu membangun rumah tangga sesuai dengan petunjuk-petunjuk syari’at agama Islam.[5]

Setelah keluarga baru telah dibangun, yang mana itu ditandai dengan adanya pernikahan (terjadinya ijab Kabul) maka serta merta peran sebagai suami dan isteri telah dimulai.[6] Setelah terjadinya ikatan pernikahan yang sah, kedua belah pihak baik laki-laki maupun perempuan menjadi sebuah kesatuan, mereka hidup bersama, saling mendukung, bahkan diperbolehkan melakukan sesuatu yang awalnya dilarang oleh agama (jika belum menikah) maka setelah menikah hal tersebut justru menjadi halal bahkan dikategorikan sebagai ibadah, misalnya hubungan seksual antara suami dan isteri.[7]

Setelah menikah, seorang suami atau isteri masing-masing memiliki hak dan kewajiban terhadap pasangannya. Hak dan kewajiban tersebut bertujuan merumuskan keluarga bahagia, tanpa adanya subordinasi, marginalisasi ataupun pemiskinan terhadap hak dan kewajiban salah satu pihak baik suami maupun isteri.[8]

Hak dan Kewajiban Bersama Suami Isteri dalam Hukum Islam

Hukum Islam sebagai tatanan hukum yang dipedomani dan ditaati oleh mayoritas penduduk dan masyarakat Indonesia adalah hukum yang telah hidup dalam masyarakat, dan merupakan sebagian dari ajaran dan keyakinan Islam yang eksis dalam kehidupan hukum nasional, serta merupakan bahan dan pembinaan dan pengembangannya.[9] Implementasi hukum Islam bagi umat Islam kadang-kadang menimbulkan pemahaman yang berbeda. Hukum Islam yang diterapkan di Pengadilan Agama cenderung simpang siur disebabkan oleh perbedaan pendapat para ulama dalam hampir setiap persoalan.[10] Maka dari itu, lahirlah Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disebut sebagai KHI) sebagai penyeragaman dari berbagai pemahaman Islam yang berbeda-beda guna memberlakukan hokum Islam di Indonesia dengan hukum yang jelas dan dapat dilaksanakan oleh apparat penegak hukum maupun oleh masyarakat. Isi dari KHI inilah yang mengatur tentang hak dan kewajiban suami isteri dalam pernikahan melalui perspektif Islam dalam hukum positif Indonesia.

Kewajiban suami isteri dalam KHI Islam diatur dalam Bab ke-XII. Pasal 77 dari KHI mengatur kewajiban bersama suami isteri yaitu kewajiban untuk memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dan susunan masyarakat, saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain, mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya, dan memelihara kehormatannya. Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.[11]

Dalam KHI, belom terdapat Pasal atau Ayat yang menjelaskan tentang masing-masing hak dari suami maupun isteri secara terperinci. Adapun kewajiban masing-masing dari suami diatur dalam Pasal 80 KHI yang menyatakan bahwa kewajiban suami merupakan:

  1. Suami adalah pembimbing, terhadap isteri dan rumah tangganya, akan tetap mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh sumai isteri bersama.
  2. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya
  3. Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada isterinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.
  4. sesuai dengan penghasilannya suami menanggung : a. nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi isteri; b. biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi isteri dan anak; c. biaya pendidikan bagi anak.
  5. Kewajiban suami terhadap isterinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari isterinya.
  6. Isteri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b.
  7. Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila isteri nusyuz.

Sedangkan, kewajiban isteri diatur dalam Pasal 83 KHI yang menyatakan bahwa kewajiban utama bagi seorang isteri ialah untuk berbakti lahir dan batin kepada suami di dalam yang dibenarkan oleh hokum islam serta untuk menyelanggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya. Apabila isteri tidak mau melaksanakan kewajibannya, makai a dianggap sebagai nusyuz.

Hak dan Kewajiban Bersama Suami Isteri dalam Kitab Minhajul

Secara harafiah, judul dari kitab ini dapat diterjemahkan sebagai: “Jalan Hidup Seorang Muslim”. Kitab ini dapat dikatakan sebuah ensiklopedi Islam bagi pemula yang ingin mepelajari agama Islam secara lebih dalam. Kitab ini mencakup hampir seluruh cabang ilmu Islam, mulai dari aqidah, adab, akhlak, ibadah, sampai muamalah. Kitab ini terbagi menjadi 5 bab. Secara berurutan, kelima bab yang terbagi dalam kitab ini membahas tentang rukun iman, masalah adab, masalah akhlak, masalah ibadah, dan yang terakhir muamalah.

Dalam bab muamalah inilah pernikahan di bahas, di mana perspektif kitab Minajul tentang hak dan kewajiban suami isteri dijabarkan. Menurut Kitab Minhajul, nikah merupakan aqad yang menghalalkan kedua belah pihak (suami dan isteri) untuk menikmati pihak satunya. Kewajiban suami isteri dalam kitab ini tidak disebutkan secara eksplisit, melainkan melalui  penjelasan tentang hak yang didapatkan setelah menikah, maupun poin-poin lain yang perlu dilakukan setelah menikah, seperti menafkahi, dan lain sebagainya.

Hak suami atas isteri dalam menikah antara lain merupakan:

  1. Dita’ati isterinya dalam kebaikan
  2. Isteri menjaga harta suaminya
  3. Bepergian dengan suami jika ia menginginkannya
  4. Menyerahkandirinya kepada suami kapan saja ia minat
  5. Harus minta izin pada suaminya jika ingiin berpuasa sunnah

Hak isteri atas suami dalam menikah antara lain merupakan:

  1. Menafkahi isterinya
  2. Memberinya kenikmatan
  3. Menginap di rumahnya
  4. Suami berada di sisi isterinya pada hari pernikahan selama seminggu jika isterinya gadis, dan selama tiga hari apabila ia janda
  5. Suami mengizinkan isterinya merawat salah seorang dari mahramnya yang meninggal dunia atau mengunjungi sanak keluarganya

Melalui hak-hak suami isteri yang ditentukan oleh Kitab Minhajul ini, dapat dimengerti bahwa kewajiban kedua suami maupun isteri juga tersirat dalam hak mereka atas pasangan mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan di mana hak dan kewajiban antara suami isteri dalam KHI dan Kitab Minhajul memiliki keselarasan dibawah nama Hukum Islam. Al-Qur’an yang merupakan sumber utama dari umat Islam yang tersalurkan melalui KHI maupun Kitab Minhajul ini pada akhirnya menjelaskan tentang hak dan kewajiban suami dan isteri dalam Hukum Islam dengan jelas. Isi dari KHI maupun Kitab Minhajul tidak bertentangan melainkan melengkapi, di mana dalam KHI hanya tertulis secara eksplisit kewajiban suami dan isteri, dan di Kitab Minhajul.

Sesungguhnya, hak dan kewajiban suami dan isteri dalam hukum Islam ditujukan untuk menentukan kedudukan suami dan isteri yang sama dalam rumah tangga, dan guna untuk mencapai kesejahteraan keluaga dan melengkapi kebutuhan kehidupan berkeluarga. Ketika seorang suami memiliki kewajiban memberikan nafkah pada isteri dan anaknya maka untuk memenuhi kewajibannya itu seorang suami harus bekerja. Begitu pun dengan seorang isteri, ia memiliki tugas untuk mengurus rumah tangga yang mana itu juga termasuk mengurus anak-anaknya.[12]


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[2] Ibid.

[3]     Nurul Afifah, “Hak Suami-Isteri Perspektif Hadis”, Jurnal Living Hadis, Vol. 2, No. 1, Mei 2017, hlm. 23.

[4]     Wahyu Wibisana, “Pernikahan Dalam Islam”, Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim Vol. 14, No. 2, 206, hlm. 185.

[5]     Lanjah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012, Badan Litbang dan Diklat, Kementrian Agama RI, Kedudukan dan Peran Perempuan, Aku Bisa, Jakarta, hlm. 138.

[6]     “Hak dan Kewajiban Seorang Isteri dalam Keluarga Menurut Pandangan Agama”, http://repo.iain-tulungagung.ac.id/7005/6/BAB%20III.pdf, diakses pada 19 April 2019.

[7]     Siti Musdah Mulai, 2011, Membangun Surga Di Bumi; Kiat-kiat Membina Keluarga Ideal Dalam Islam, PT Gramedia, Jakarta, hlm, 40.

[8]     Tihami dan Sahrani, 2010, Fikh Munakahat; Kajian Fikih Nikah Lengkap. Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 153.

[9]     Mardani, 2010, Hukum Islam, Pustaka Belajar, Yogyakarta, hlm.171.

[10]    Dirjen Binbaga Islam, 1991, Sejarah Penyusunan Kompilasi hukum Islam di Indoesia, Departemen Agama RI, Jakarta, hlm. 139.

[11]    Pasal 77 Kompilasi Hukum Islam

[12]    “Hak dan Kewajiban Isteri…”, Loc.Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: