Bahasa Indonesia,  Poets,  Thoughts

Kering

November kemarin menyakitkan, ibarat luka yang belum sembuh namun diteteskan air garam. Pedih. Orang-orang yang dzalim belum beranjak, duduk termangu dengan imajinya seakan apa yang terjadi adalah fana. Buntu, moralnya. Keliru, pikirannya. Seakan-akan ideologi yang ditanamkan selama bertahun tidak ada yang membekas sebiji zarah pun. Fitnah. Keji. Menyerahkan kepada yang Maha Kuasa, namun benak masih saja menghitung yang nisbi. Lucu. Tertawa.

Kemudian Desember datang. Menyapu puing reruntuhan sakit hati yang tersisa, membuangnya jauh-jauh agar lupa. Sedikit demi sedikit, itu berhasil. Namun orang-orang dzalim masih belum beranjak. Desember tidak sekuat itu untuk turut menyapu mereka, meskipun memelas, meskipun menangis, orang-orang dzalim masih berada di sana. Desember melupakan Januari yang selalu datang membawa gemuruh beriringan dengan kisruh, agar perang, agar hingar, agar bingar.

Benar saja, Januari datang. Membawa angin badai, menerbangkan percaya diri yang kokoh, membawa hingar bingar, membawa bingung, membawa hati yang hancur. Hujan adalah rahmat, namun kenapa kita berharap paceklik datang? Hujan Januari ini berbeda dengan biasanya. Kali ini ia kejam dan tidak memikirkan apapun, tidak si baik hati, bahkan tidak si dzalim. Menghancurkan harapan-harapan yang telah dibangun, membelokkan persepsi.

Aku berharap Februari tidak hujan. Bukannya aku menolak rahmat. Pasang-surut yang dibawa November, Desember, dan Januari, sudah terlalu besar. Aku tidak kuat menopangnya. Beban.

Aku berharap Februari tidak hujan. Biar saja kering, agar orang dzalim tidak dzalim lagi. Bahkan lebih baik, agar tidak ada yang dapat didzalimi orang dzalim lagi.

Aku berharap Februari tidak hujan. Biar aku tidak merasakan apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: